Juridical Analysis Of Perpetrators Participating In Child Trafficking Crimes (Tppo) As Victims
DOI:
https://doi.org/10.63309/dialektika.v23i1.728Keywords:
Child Trafficking, Perpetrator-Victim, Restorative Justice, Legal Accountability, Indonesia.Abstract
Human trafficking, particularly involving children, remains a persistent and complex challenge for the Indonesian legal system. Despite the enactment of Law Number 21 of 2007 on the Eradication of the Crime of Trafficking in Persons and related regulations, gaps persist in addressing individuals who simultaneously occupy the roles of perpetrator and victim. The urgency of this study arises from the increasing number of coerced participants being criminalized, which undermines substantive justice and human rights protections, highlighting the need for a normative and context-sensitive legal framework. This research aims to analyze the juridical accountability of individuals involved in child trafficking while experiencing victimization, evaluating the extent to which the current legal system aligns with principles of justice, legal certainty, and expediency. The research employs a qualitative approach with a normative juridical method, combining statute and conceptual analyses. Data were collected through comprehensive document review, including primary legal materials, academic literature, and international conventions, and were analyzed using qualitative juridical interpretation to examine the alignment between statutory provisions and ethical, social, and restorative justice considerations. Findings indicate that the Indonesian legal system often treats coerced individuals as full perpetrators, reflecting a gap between formal law and moral justice as articulated in Radbruch’s legal philosophy. Judicial practices are inconsistent, and institutional coordination is weak, limiting the effectiveness of law enforcement and rehabilitative mechanisms. Comparative insights from the United Kingdom and the Philippines reveal that explicit recognition of coerced participants as victims enhances both justice and law enforcement effectiveness. The study recommends legal reforms incorporating restorative justice principles, codification of non-punishment for coerced participants, judicial training, and institutional integration with social support services to ensure equitable, humane, and effective legal responses.
Downloads
References
Candra, Mardi. 2018. Aspek Perlindungan Anak Indonesia. Jakarta Timur: Prenada Media Group.
Chazawi, Adami. 2020.Tindak Pidana Mengenai Kesopanan. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Dwi Yuwono, Ismantoro. 2015. Penerapan Hukum Dalam Kasus Kekerasan
Elisabeth Nurhaini Butarbutar. 2018. Metode Penelitian Hukum. Bandung:
Gultom, Maidin. 2018. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dan Perempuan.
Hadiwijoyo, Sakti Suryo. 2015. Pengarusutamaan Hak Anak Dalam Anggaran
Hafidz, Muhammad Dan Mufid, Laily Firda. 2018. “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban
Kekerasan Seksual (Studi Didesa Sabrang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember)”, Dalam Jurnal Rechtens, Volume 1. No. 1. Https://Almanhaj.Or.Id/3113-Perdagangan-Manusia-Human-Trafficking.Html Diakses Tanggal 10 Januari 2025 Jam 16.45 Wib. Https://Patra.Itb.Ac.Id/Karya/Kajian-Energi/Apa-Itu-Kajian/ Diakses Tanggal 14 Januari 2025 Jam 15.15 Wib.
Ida Hanifah, Dkk. 2018. Pedoman Tugas Akhir Mahasiswa. Medan: Pustaka
Indah, Maya C. 2014. Perlindungan Korban Suatu Perspektif Viktimologi Dan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Kuhperdata)
Kitab Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (Kuhap)
Kriminologi. Jakarta: Prenadamedia Group.
Marlina Dan Zuliah, Azmiati. 2015. Hak Restitusi Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Bandung: Pt. Refika Aditama.
Noer Indriati, “Perlindungan Dan Pemenuhan Hak Anak (Studi Tentang Orang Tua Sebagai Buruh
Migran Di Kabupaten Banyumas)”, Dalam Mimbar Hukum, Volume 29, Nomor 3,
Oktober 2017. Prima. Publik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Refika Aditama. Seksual Terhadap
Anak. Yogyakarta: Pustaka Yustisia.
Simatupang, Nursariani Dan Faisal. 2018. Hukum Perlindungan Anak. Medan: Pustaka Prima.
Soerjono Soekanto & Sri Mamudji. 2001. Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat).
Jakarta: Rajawali Pers.
Sulistiani, Lis Siska. 2016. Kejahatan Dan Penyimpangan Seksual Dalam Perspektif Hukum Islam
Dan Hukum Positif Indonesia. Bandung: Nuansa Aulia.
Sunarso, Siswanto. 2020. Viktimologi Dalam Sistem Peradilan Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.
Tuage, Natalia Saristha. 2013. “Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Dan Korban Oleh Lembaga Perlindungan Saksi Dan Korban (Lpsk)”. Dalam Jurnal Lex Crimen, Volume Ii. No. Ii.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana (Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (Kuhp).
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
W.J.S. Poerwadarminta, 1984, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:
Balai Pustaka, J Hlm. 25.
Waluyo, Bambang. 2014. Viktimologi Perlindungan Korban Dan Saksi. Jakarta: Sinar Grafika.
Wiguno, Ponco, Ario. 2013. “Kajian Viktimologi Terhadap Anak Sebagai Korban Tindak Pidana
Kesusilaan”, Dalam Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion, Volume 1, No. 1.
Kompasiana (2024) .Kekerasan Seksual Pada Anak, Paedofilia, Trauma, Dan Underwear
Rule. Htm Diakses Tanggal 22 Nov 2024 Jam 13.34 Wib
Yuliartini, Rai Putu Ni. 2015. “Kedudukan Korban Kejahatan Dalam Sistem Peradilan Pidana
Diindonesia Bedasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Kuhap)” Dalam
Jurnal Komunikasi Hukum, Volume 1. No. 1.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.








